Langkah-Langkah dan Penggunaan Tes Dalam Penelitian

A. Langkah-Langkah Penggunaan Tes
    
Ada beberapa langkah yang perlu dilalui agar proses analisis menjadi lebih terarah, yakni skoring, tabulasi, mendeskripsikan data, dan melakukan uji statistika.
       1.  Skoring
Skoring adalah pemberian nilai pada setiap jawaban yang dikumpulkan peneliti dari instrumen yang telah disebarkan. Setiap item pertanyaan  yang dimunculkan pada instrumen dikuantifikasikan dalam bentuk angka. Misalnya, pada saat angket disebarkan aternatif jawaban yang diberikan  masih berupa kualitatif, maka pada tahap ini harus dikuantifikasikan. Pada tahap ini peneliti memberikan nilai atau bobot pada setiap alternatif jawaban.
Contoh alternatif jawaban pada angket.
·  Selalu              : 3
·  Belum tentu    : 2
·  Tidak               : 1
     2.   Tabulasi
Setelah tahap skoring, hasilnya ditransfer dalam bentuk yang lebih ringkas dan mudah dilihat. Mencatat skor secara sistematis akan memudahkan pengamatan data yang diperoleh. Apabila analisis data membandingkan dua kelompok, maka data ditempatkan dalam kolom yang berbeda. Dengan menggunakan prinsip tabulasi ini, seorang peneliti akan dapat menentukan arah selanjutnya teknik analisis apa yang diperlukan, tergantung pada tujuan analisis data yang hendak dicapai.
        3. Mendeskripsikan data
Mendeskripsikan data adalah menggambarkan data yang ada guna memperoleh bentuk nyata dari responden, sehingga lebih dimengerti oleh peneliti atau seseorang yang tertarik dengan hasil penelitian yang dilakukan. Analisis data yang paling sederhana dan sering digunakan oleh peneliti atau pengembang adalah mmenganalisis data yang ada dengan menggunakan prinsip-prinsip deskriptif. Dengan menganalisis secara deskriptif dapat mendeskripsikan data secara lebih ringkas, sederhana, dan lebih mudah dimengerti. Yang termasuk analisis deskriptif antara lain mean, median, modus, quartil, desil, persentil, standar deviasi, dan varian.
        4. Melakukan uji statistika
Uji statistika atau analisis inferensial merupakan pengolahan data yang diperoleh dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-aturan yang berlaku, sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang diambil. Penggunaan rumus atau aturan-aturan tersebut hendaknya mampu mengukur dan sesuai dengan tujuan atau hasil penelitian yang ingin peneliti capai.

B. Penggunaan tes

Tes merupakan alat untuk menentukan sampel dari perilaku peserta didik. Sampel mengacu pada sebagian perilaku peserta didik yang ingin diamati oleh guru, karena pada dasarnya sulit bagi guru untuk mengamati keseluruhan perilaku yang dimiliki oleh siswa. Pengertian tersebut cenderung berkaitan dengan aspek-aspek psikologis yang dimiliki oleh peserta didik dan belum menyentuh aspek-aspek kognitif sebagai hasil belajar siswa. Pengertian berbeda bahwa tes merupakan metode untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, dan kinerja seseorang dalam domain tertentu. Pengertian ini tampaknya lebih mengutamakan fungsi tes sebagai instrumen sebagai alat untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, dan kinerja (performance) sebagai hasil dari proses belajar peserta didik. Secara faktual dapat dipahami bahwa tes diperlukan setelah proses pembelajaran dilakukan dan dimaksudkan untuk mengukur tingkat ketercapaian hasil belajar peserta didik pada materi pelajaran tertentu.
Pengertian yang lebih spesifik yang menyatakan bahwa tes merupakan seperangkat pertanyaan yang memiliki jawaban yang mempunyai atribut benar dan salah. Pengertian ini menekankan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang menjadi fondasi dari tes harus memiliki atribut benar dan salah. Dengan kata lain, jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik dalam merespons pertanyaan-pertanyaan itu dapat diklasifikasikan menjadi jawaban benar dan jawaban salah. Pengertian ini penting untuk dipahami guna membedakan respons yang diberikan oleh responden (mungkin juga oleh peserta didik) terhadap pertanyaan atau pernyataan dalam kuisioner tertentu. Jawaban sebagai respons terhadap pertanyaan atau pernyataan dari kuisioner itu tidak dapat diklasifikasikan kedalam jawaban benar dan jawaban salah, karena jawaban-jawaban itu biasanya bersifat kontinum. Oleh karena itu, kuisioner dikategorikan sebagai instrumen non-tes. Berbagai pengertian tersebut tentunya memberikan wawasan yang lebih baik tentang tes. Tes tidak hanya digunakan untuk mengukur perilaku dalam bidang psikologi, tetapi tes juga banyak digunakan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tes merupakan seperangkat atau sejumlah pertanyaan yang memerlukan jawaban dengan maksud untuk mengukur tingkat keberhasilan belajar seseorang (peserta didik) atau mengungkap aspek-aspek tertentu dari orang yang dikenai tes itu. Hasil dari tes merupakan informasi yang berkaitan dengan karakteristik seseorang, baik secara individu atau kelompok. Karakteristik itu dapat berupa kemampuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.
Pada dasarnya tes dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Misalnya tes digunakan untuk seleksi. Ketika jumlah calon peserta didik yang akan diterima disebuah sekolah tertentu melebihi kuota yang ditentukan, maka tes dapat digunakan untuk menyeleksi calon peserta didik itu sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Demikian pula perguruan tinggi dapat menyeleksi calon mahasiswa sesuai dengan kriteria tertentu dengan menggunakan tes. Perusahaan yang membutuhkan karyawan dengan kemampuan dan keterampilan tertentu pun dapat menggunakan tes sebagai instrumen untuk menyeleksi calon karyawan yang berkualitas sesuai dengan standar perusahaan.
Tes juga dapat digunakan untuk keperluan klasifikasi. Penggunaan tes sebagai klasifikasi sangat populer di bidang pendidikan bahasa sebagai tes penempatan (placement tes). Dengan menggunakan tes, kelas bahasa dapat menempatkan peserta didik sesuai dengan kemampuan awal yang dimiliki oleh peserta didik itu, misalnya kemampuan dasar (elementary level), kemampuan mencegah (intermediate level), dan kemampuan lanjut (advanced level). Klasifikasi ini tentu sangat berguna bagi guru bahasa, misalnya guru bahasa Inggris, untuk menentukan metode, media, teknik, dan bahan ajar yang tetap sesuai dengan kemampuan peserta didik.
Tes juga dapat digunakan untuk keperluan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat digunakan, misalnya untuk menentukan apakah siswa naik atau tinggal kelas, untuk menentukan apakah seseorang layak membuka praktek kedokteran atau tidak, dan untuk menentukan efektivitas program pembelajaran. Selain itu tes dapat pula digunakan untuk keperluan konseling. Misalnya interest inventory dapat digunakan untuk menentukan peluang sukses dalam karir seseorang atau dengan personality test untuk membantu pasangan calon pengantin dalam mempersiapkan mental sebelum pernikahannya. Tes juga sangat berguna untuk kepentingan penelitian. Dalam penelitian eksperimen, peneliti dapat menggunakan tes untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan subjek penelitian yang memiliki kreativitas tinggi dan rendah dengan tes kreativitas. Peneliti juga dapat menggunakan tes untuk mengukur perilaku seseorang dan kemudian menguji tata hubungan antar variabel. Begitu besar manfaat tes dalam berbagai bidang kehidupan. Untuk mengevaluasi tingkat kebermanfaatan tes tersebut diperlukan sistem pengukuran yang tepat, sehingga tes tersebut akan lebih bermakna.

Daftar Pustaka : 
1. Sukardi. "Metodologi Penelitian Pendidikan". Bumi Aksara:Jakarta.
2. Sumardi.2020. "Teknik Pengukuran dan Penilaian Hasil Belajar". CV Budi Utama :Yogyakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ATHOF

KALIMAH (الكلمة)

Maharah Qiroah Untuk Kelas 1 Mts semester 1